Minggu lalu sebuah email dari Human Resource Dept. berkenaan dengan pengaturan sembahyang Jum’at bagi karyawan laki-laki muslim. Sepintas membaca awal mulanya aku pikir bahwa yang diatur adalah jam keluar dari pabrik bergiliran mengikut pengelompokan yang dibuat. Tetapi setelah aku teliti lebih lanjut dan bertanya-tanya pada teman-teman lokal di sini, ternyata pengaturannya adalah untuk menggilir sembahyang Jum’at bagi kelompok-kelompok tersebut setiap minggunya. Jika minggu ini kelompok A yang pergi sembahyang maka kelompok B tidak. Demikian juga sebaliknya pada minggu depan ketika kelompok B pergi sembahyang maka kelompok A tidak.
Pengaturan ini sungguh mengejutkan untukku. Bagaimana sebuah perusahaan bisa mengatur seperti itu? Aturan Allah SWT bahwa sembahyang Jum’at adalah wajib bagi laki-laki muslim ‘diakali’ demi kepentingan perusahaan? Dan aku melihatnya juga dari sudut bahwa ini diterapkan di Malaysia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bagaimana hukum dan undang-undang mereka bisa membiarkan ini terjadi?
Keterkejutan inilah yang mendorongku mengirimkan email kepada sesama rekan muslim Malaysia dan Indonesia yang bekerja di perusahaan ini. Sebuah email untuk mengingatkan bahwa aqidah Islam penting untuk ditegakkan dan tidak dapat dikalahkan hanya oleh sebuah aturan yang dibuat oleh pihak Human Resource perusahaan. Email lengkapnya sebagai berikut:
Astaghfirullah ‘aladzhiiim…
My dearest friend in HR and JHM-NJ,
Sungguh sangat mengejutkan bagi saya selaku seorang Muslim mengetahui bahwa aturan/rancangan manusia bisa lebih tinggi daripada aturan Allah SWT. Schedule sembahyang Jum’at ini adalah contoh nyata!
Saya tidak mengetahui latar belakang/background bagaimana arrangement seperti ini boleh dibuat. Saya juga tidak tahu apakah ada law/regulation dari kerajaan Malaysia (entah itu Manpower Dept, Persatuan Ulama Malaysia, JAKIM, Union, Raja Johor, etc) yang mendukung arrangement seperti ini. Tapi bagi saya, arrangement ini sangat sangat sangat tidak menghormati agama Islam.
Sembahyang Jum’at itu WAJIB hukumnya bagi laki-laki Muslim yang sudah akhil balikh. TIDAK BOLEH ditinggalkan!!!
Al Qur’an surah Al Jumu’ah ayat 9: Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Jadi bagaimana aturan sebuah kilang/syarikat boleh mengatur seorang laki-laki Muslim untuk sembahyang Jum’at ON OFF seperti yang dibuat HR kita ini? Minggu ini sembahyang, minggu depan tak sembahyang, minggu depannya lagi sembahyang, minggu depannya lagi tak sembahyang dan seterusnya…..
Bukankah Rasulullah SAW telah menyampaikan bahwa meninggalkan sembahyang Jum’at 3 kali, maka padanya tiada lain selain munafik (Hadist riwayat Abu Daud dari Abul Ja’di Damai; Nailul Authaar 3:272)
Saya SANGAT TIDAK SETUJU dengan schedule sembahyang Jum’at ini !
Saya berharap kawan-kawan HR dan kawan-kawan Malaysia tercinta saya dapat mengambil peran untuk melakukan perubahan atas schedule ini. Apalagi ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Saya bukanlah Muslim yang fanatik, tapi jika ada aqidah Islam yang dilanggar, maka saya akan ikut berdiri menentangnya. (kalau nama saya dimasukkan pada satu kumpulan dalam senarai nama dari HR itu, Insya Allah saya adalah orang pertama yang akan MELAWAN dan TIDAK MEMATUHI schedule itu!)
Setiap orang akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Saya tidak ingin ditanya nanti apa usaha yang sudah saya dilakukan untuk mencegah pengaturan sembahyang Jum’at secara bergilir di kilang JHT ini dan saya takut tidak bisa menjawabnya. Email himbauan ini adalah usaha kecil saya untuk merubahnya, paling tidak itulah yang akan saya sampaikan kelak. Malaikat di kanan dan kiri saya saat ini sedang mencatat usaha saya. Ya Allah, ampuni hambaMu yang lemah dan dhoif ini, karena sungguh ini adalah selemah-lemah usaha yang bisa hamba lakukan.
Sebagai tambahan, saya menemukan satu link menarik bagaimana Kelantan menerapkan hukum Islam yang keras mengenai sembahyang Jum’at:
http://thestar.com.my/news/story.asp?file=/2006/4/27/nation/14074076&sec=nation
Rupanya ada pihak yang meneruskan email ini ke Management. Entah siapa dan dengan maksud apa. Namun yang pasti tadi pagi aku dipanggil meeting oleh General Manager, Senior Operation Manager dan Operation Director. Mereka mempertanyakan motivasiku menulis email yang dikatakan mempengaruhi karyawan lain untuk tidak mematuhi aturan perusahaan. Mereka tidak menginginkan hal yang berkaitan dengan agama masuk mempengaruhi keputusan-keputusan yang dibuat perusahaan. Dan mereka juga mengatakan secara implisit bahwa emailku itu ‘mendapat perhatian’ dari Headquarters dan mereka tidak suka serta kemungkinan akan mengambil tindakan atasku jika aku bersikeras untuk mengembangkan persoalan ini lebih lanjut.
Ada pertentangan batin di diriku saat ini. Membawa persoalan ini berlanjut dengan resiko berat (penyingkiran atau pemecatan dari perusahaan) atau menganggap tidak ada masalah sehingga aku akan aman (karena toh sebenarnya aku tidak termasuk pada pengelompokan giliran sembahyang itu). Namun bagaimana dengan teman-teman laki-laki muslim yang terkena dampak pengaturan itu? Tidakkah mereka harus dibela? Bukankah aku punya amanah jabatan untuk menyuarakan itu ke Managemen? Apa yang harus aku lakukan?